My Pages

Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts

Friday, February 15, 2013

Statis

Statis.
Sama dan tak berubah.
Tetap dan tak berbeda.
Kestatisan yang tak bermakna, tapi membangun kehidupan.

Monday, February 13, 2012

Aku yang Tak Pernah Mengerti...

Cinta itu seakan semu
Bayangmu seakan rancu
Hatiku bergetar ragu
Kakiku berhenti maju

Sebuah hentakkan kaki yang menggetarkan nadiku
Sebuah senyuman polos yang meronakan pipiku
Sebuah suara yang menegangkan bulu kudukku
Apakah itu bukan pelampiasan kekesalanku?

Tuesday, November 29, 2011

Bagiku.. (To:2313)

Bagiku kau adalah sebuah nada yang kukunci dan kujaga di dalam sebuah kotak musik..
Saat kupikir aku mulai melupakanmu, aku melupakan tempat aku menyimpan kuncinya..
Namun saat kau kembali muncul bagaikan angin kurasa kunci itu muncul kembali tanpa perlu kucari..
Apa maksud semua ini?

Sincerely,
---JW---

Thursday, August 25, 2011

---I'm Nothing---

Near or far, just the same...
Nothing change, just on our pace...
Step by step, one by one..
Me on mine, and you on yours...

I see you, from a far..
Only see your face so bright today..
Sun so bright but my heart's breaking..
Tearing into pieces...

Silence just keep quite...
Making the world so lonely...
Making the world means nothing...
But it only do it's own part...

Underneath the sky of grey...
My searing pain, scratching my tears..
Left a scar deep and painfull...
When I'm thinking that I'm nothing...

Nobody see me..
Nobody realize 'bout me...
Nobody knows..
Even the sun refuse to shine on me...

Go along with memories, silenceness..
Push aside to the edge...
3, 2, and 1.. And off..
I'll fall with just a nudge....

I'm nothing...
I left behind in the darkness..
I swallowed my own tears and fears alone..
Nobody beside me, nobody wants to..

I left behind...
Alone, again...
Everyday....
I'm just a dust...
----------------------------------------------------------------
HI GUYS!!
I've made a song!!
There, up there...
It's only the lyrics, and it's a sad song...
The lyrics is so cruel... (=_______=)

I think the song is about the suffering kids because of the bullying, because of their parents behavior, and maybe because they must live by their own or anything. They don't have any single hope on their own, because they can't rely on anybody.... But the point is, they feel that they're nothing...

Maybe you can find those suffering kids or teenagers?
So help them then... ^^

Best Regards,
----JW---- 

Friday, August 19, 2011

A poem dedicated to : 2313 (2)

Hari ini aku berdoa lagi...
Menunggu sejenak, rintik-rintik api membara di hati...
Karena aku ingin menemuimu, melihatmu...
Bukan hanya mataku yang melihat..
Juga hatiku bergejolak laksana ombak menderu, di setiap anjar buih-buihnya terdengar...

Bagiku melihat sosokmu itu bagaikan senandung di tengah sunyi...
Lentera di tengah kelam...
Cerah diantara kelabu...
Manis diantara obat...
Sudut nyaman diantara hiruk-pikuk...
Harum diantara busuk...
Tawa diantara sendu sedan...
Jawaban diantara seribu pertanyaan...
Bunga diantara sampah...
Oasis di tengah gurun...
Titik terang diantara jalan buntu...

Intermezzo sejati di tengah huru-hara kehidupan dan kepenatan jalan hari-hari...
Aku manusia lemah yang mudah terbuai...
Hatiku mudah terlena...
Karena hanya dengan melihatmu, aku terpuaskan...
 To : ---2313---
From : ---JW---

Halo semuaaa~~ JW disini~~ 
*Yah kalo bukan JW sapa lagi coba yang nge-post disini? Gue agak mengalami gangguan nih... #abaikan* YAK!! Sesi jujur-jujuran mulai disini~
Puisi ini--tepatnya kayaknya kalo kita bilang ini essay, tapi ya udahlah lebih keren dibilang puisi ini JW buat pas nungguin bel tanda selesai pelajaran biologi pagi ini. Pelajaran pertama yang isinya cuma ulangan yang sukses besar bikin banyak anak-anak SMPK IPEKA Puri kelas 9 stress dan mabok sendiri. Ga dikit yang bilang "Gue pasrah aja.." Tapi hal yang aneh adalah menurut JW justru pelajaran ini cukup seru lho.. (=____=)""
Lagi belajar apa siiiih?
SISTEM KOORDINASI!!
Seru kok.. Buat yang udah pernah mengecapnya pasti tau.. Buat yang belum? Tunggu aja, ada kok tanggal mainnya... ^______^ Lucunya tadi JW kena di pelajaran pertama, dan JW selesai pertama. Kenapa? Pilihan ganda ada 40 soal. JW nebak 5. terus buat esai, terus lagi gurunya bilang PG ga boleh diganti ataupun dicoret ataupun bla, bla, bla... Jadi menurut JW, "Kalo ga boleh diganti yah berarti kalo gue tau ini salah terus gue ganti sama aja donk? Ya udah biarin aja. Ga usah gue periksa sekalian... Males." dan JW pun tidur-tiduran hampir 30 menit.. *PEACEEEE* Akhirnya malah buat beginian deh.. Mumpung AC nya maut banget, udah enak tuh adem-adem. Inspirasi datang di otak yang udah mau meleleh gara-gara panasnya kota Jakarta yang kurindukan ini... (?) #ngelantur
Ngetiknya pun sambil buat analisa karya Industri kecil yang JW ga mau tau harus selesai hari ini juga! HARUS! beserta kanvas yang menunggu dan berhasil bikin JW pusing cuma dengan ngeliat pura lumutan hasil karya gagal gw... (._.") <-- ga berani ngeliat lukisan gue.. Mengalihkan pandangan..
Analisa karya gue menggunakan lukisan Basuki Abdullah yang judulnya 'Balinese Beauty'. Sekarang JW ga heran kenapa kelas Industri Kecil di sekolah pake nama 'Basuki Abdullah' karena lukisannya emang asli KEREN BANGET!! Kapan-kapan JW bakal masukin beserta analisisnya, walaupun ga jamin bener... (-______-)
Yah begitulah kira-kira...
Lagipula ini bisa dianggap sebagai latihan membuat puisi 'kan? Makanya ada label study-nya..
Oh ya, tambahan... JW ngetik sambil berantem sama nyamuk yang dari kemaren udah gangguin tidur JW, sekarang gangguin hobi dan tugas JW... BUZZ OFF!! APA maunya tuh nyamuk?

Akhir kata, setiap orang punya cara pandang dan pikirnya masing-masing. Biarkanlah otakmu berpikir kearah yang dia mau. Maka di aspek apapun yang dia mau, dia akan mendapatkan inspirasi bagimu. Estetika akan datang tanpa diminta, asalkan otak itu sudah siap untuk diisi berbagai pemikiran khas seniman : ABSTRAK~

Karena :
Jika semua orang bisa mengerti jalan pikir seorang seniman aspek apapun, maka karya seni itu bukan sesuatu yang berharga lagi. Seni bukan hanya logika, seni itu hidup dari pemikiran-pemikiran yang bisa dilihat dari seluruh sudut pandang yang ada. SENI ITU HIDUP! Di dalam alam pikiran kita sendiri...
CIPTAKANLAH SENI MU!!

Tunggu... gue jadi ngelantur kemana-mana... (+____+)

Best Regards, JW 

Thursday, August 11, 2011

A poem dedicated to : 2313..


Suaraku bukanlah sebuah desiran belaka...
Suaraku bukanlah desisan saja...
Suaraku bukan lengkingan yang memekikan telinga...
Tapi suaraku adalah sebuah cerita dan tangisan...
Maka itu dengarkanlah....


Hanya Caraku untuk Mencintaimu...


Melodi yang serak,
tapi tidak sumbang...
Hanya mengandung 1000 kisah...
Di balik tirai....

Aku tak akan mendongeng...
Hanya bisa bermelodi..
Berharmoni dengan suara bunga,
yang bergesek halus...

Sampaikah kata-kataku padamu?
Mengertikah ucapku dalam senandung padamu?
Ataukah hanya menjadi angin lalu,
yang seakan mengejek dan tersapu?

Jika bagiku itu adalah simfoni...
Jika bagiku itu begitu jernih...
Apakah bagimu itu hanyalah angin yang berlari?
Bukan melodi lincah yang menari?

Sampaikah nyanyianku ini?
Tibakah melodiku ini?
Hanya sebuah not yang berhambur,
menjadi hampa tanpa tersisa...

Sakit, perih, ngilu..
Namun tiada darah yang mengalir..
Tidak ada air di pipiku,
yang masih ada hanyalah sonataku yang kembali dari gunung dan memantul...
Kembali dan tak akan pergi lagi.. Tak bisa pergi lagi,
sekalipun aku memohon pada melodiku sendiri...

Karena itu belum sampai padamu,
biarkanlah aku terus menyanyi...
Sampai melodi berubah menjadi pasir dan debu,
yang ada di tanah dan di udara...

Sampaikanlah, wahai angin...
Sampaikanlah, wahai ranting....
Sampaikanlah, wahai langit...
Sampaikanlah, wahai air...

Melodiku yang serak...
Namun tidak sumbang...
Menyembunyikan 1000 kisah impian...
Dibalik sepatah ucapan...

Aku mencintaimu...


Wednesday, August 10, 2011

Ketika Merah Bertemu Biru....


Ketika Merah bertemu Biru… (dedicated to : Jessica Penny…J)
~1~ Biru
Langit….
Langit itu luas…
Langit itu tak bertepi…
Langit itu atap dunia..
Langit itu nampak, tapi tak bisa diraih…
Menggapai langit itu bagaikan mimpi…
Seandainya langit adalah diriku,
Hujan adalah tangisan langit..
Matahari adalah senyuman langit…
Langit hitam adalah kelelahan langit..
Bulan adalah kebahagiaan langit…
Bintang adalah keindahan langit…    
Pelangi adalah harapan langit…
Angin adalah suara langit…
Awan adalah persembunyian langit..
Tapi aku hanya berharap aku menemukan awanku untuk bersembunyi dari semua ini…

Duniaku hanyalah dunia khayalan…
            “Eh liat deh tuh anak… Diem mulu, sampe takut gue sama dia.” kata seorang siswa.
Duniaku tak kasat mata..
            “Emang tuh, idup ga sih tuh anak? Zombie kali ya? Wahahaha…” jawab seorang siswa lagi menimpali pembicaraan temannya.
Aku tak mengenal dunia selain diriku sendiri…
            “Bodo amat lah…… dipikirin amat, toh, kalo dia ga ada dunia ga kiamat, kan? Wahahahaha…” kata seorang siswa lagi.
Yang aku tau, bahwa di duniaku hanya ada diriku sendiri…

Gue ga pernah peduli dengan mereka. Terserah mereka mau bilang apa, tapi buat gue lebih mengenal dunia luar itu mengerikan. Rasanya kita bakal ditarik keluar dari dunia ideal yang selama ini gue dambakan dan gue diami selama hidup gue yang sekarang. Masa sekarang disuruh mengenal lagi yang lainnya? Bahkan yang belum dikenal? Jawaban gue, NGGAK makasih banyak. Gue suka dunia dimana ini adalah dunia ideal gue..’, tulis seorang gadis di buku diary nya yang sudah kelihatan tua, hard cover tebal berwarna coklat tua.
Gadis itu adalah Algea. Algea Oschivibillia Irtysh. Nama yang…unik? Buat yang punya nama, itu emang nama yang unik, Algea merupakan gabungan nama jenis tumbuhan ‘Algae’ dan nama sebuah laut di Yunani, ‘Aegea’, jadi maksudnya adalah semua nama Algea berdekatan dengan alam. Irtysh juga sebuah nama sungai yang ada di Russia, karena kakek Algea berasal dari Russia. Sedangkan Oschivibilia hanyalah kata-kata iseng yang dibuat oleh ayahnya Algea. Walaupun Algeanya sendiri ga tau arti dari namanya, karena Algea sendiri adalah anak yang hilang di Indonesia waktu kecelakaan…. Dia hanya ditemukan oleh warga setempat dan dibiayai oleh seorang misionaris….
Tapi sayangnya buat mereka yang lain, itu adalah sebuah nama yang freak! Algea emang selalu dianggap begitu, karena Algea sangaaaat tertutup. Temennya cuma buku, buku, dan buku. Bahkan kadang dia juga ga dianggap sama guru di sekolah, untungnya dia pinter. Dia tinggal sendirian dengan biaya yang diberikan oleh misionaris tersebut, karena dia pun tidak mau tinggal secara langsung bersama Algea dengan alasan terlalu sibuk. Padahal dia hanya agak takut melihat Algea yang sama sekali ga mau ngomong gara-gara kecelakaan itu. Bukan bisu, tapi bingung mau ngomong apa…. Menyedihkan.. Memang begitulah nasib Algea, malang, namun tak berdaya.
Setiap hari pun Algea cuma diem, dan semua orang pun sering ngomongin dia sebagai zombie, mayat idup, kutu buku abis, setan nyasar ke kota, dsb. Tapi Algea juga ga pernah menanggapi mereka, buat Algea masa SMA itu cuma buat belajar, ngapain kalo ke sekolah ga buat belajar? Makanya dia selalu ranking 1 umum di setiap tahun dari SD sampe SMP kemaren, dan sekarang baru 1 semester berlalu, Algea udah mencetak 22 skor 100 dari 39 nilai yang udah dikeluarin!! Yang ga 100 semua cuma gara-gara olahraga dan presentasi (Algea jarang banget mau ngomong, padahal isi presentasinya bagus. Makanya guru lumayan suka dia karena nilainya bagus. Sayangnya dia kagak mau ngomong, makanya dia dapet seengaknya pas KKM ato 1 angka diatas KKM). Dan ada 1 bidang studi yang dia selalu dapet nilai 100 untuk setiap ulangan, praktek, tugas, non-test, ataupun teori dan laporan (selain presentasi), BIOLOGI! Algea is a biology addict! Kalo udah belajar biologi maka dia bakal terus-terusan mengurung diri di kamarnya sampe kadang-kadang lupa makan minum… gawat? Bukan… PARAH!!
Tapi mau gimana lagi? Algea juga memang cuma suka 2 hal di dunia ini, salah deh… 3… Buku, Biologi, dan TOKO BUKU!! Selesai… Nothing more… Weird? Absolutely yes! A big yes, but….. for her? It’s herself, so what? Kalo semua orang di sekolah lagi ngomongin dia, dia juga ga peduli, tetep fokus sama apa yang lagi dia kerjakan, nulis? Baca? Atau lagi gambar? Semua yang berhubungan dengan alat tulis, buku, dan media… Media adalah kertas, bagi dia itu adalah media untuk menyalurkan dirinya, perasaannya, dan kebahagiaannya, atau kesedihannya. Taukah hal apa yang paling disuka oleh Algea? Buku… Of couse! Tapi apa impian Algea? Punya toko buku? Bukan…… pengen punya orang yang menganggap dia dan menerima dia apa adanya, bukannya malah mencibir dia, tapi dia pengen supaya dia ditarik keluar dari kesepiannya yang tak berujung…..
Sementara itu di luar kelas, ada seorang pemuda yang tubuhnya tinggi semampai, tubuhnya cukup bidang untuk anak seumurnya, dan tentunya tampan. Sedang bermain sepak bola dengan kawan-kawannya yang sama-sama gila dengan dia, sangaaaaat ceria. Kayaknya ga pernah ada hujan dan badai yang datang menghampiri hidupnya, selalu ceria bak matahari. Semua cewe di sekolah ini nge-fans sama cowo tersebut, Senna, Sennatya Scarlett Wigiandra. ‘Sena’ itu nama Jepang yang ditambah-tambahin kesan Indonesia jadi Sennatya, kenapa nama Jepang? Karena mamanya Senna itu campuran orang Jepang sedikit.
Punya papa yang gila nonton opera emang agak susah, Scarlett sendiri diambil dari nama sebuah tokoh teater, Scarlett O’ Hara, padahal Scarlett O’Hara itu cewe lho. Makanya Senna lebih suka orang tau namanya cuma Sennatya Wigiandra, jangan sampeeeee ketauan ada Scarlett nya, dia menganggap nama itu agak ‘girly’ dan ‘freaky’ buat dia yang terkenal sebagai pangeran sepak bola disini, SMA Pusaka Bangsa. Walaupun begitu keren dan tampan, kaya dan royal,serta ceria dan easy-going, sayangnya kurang satu lagi, EHEM, AKADEMIK. Senna is really awful in that!!
Mau gimana lagi? Si Senna nya sendiri juga ogah-ogahan, udah tau ada remedial eeeeeehhh…. Dia malah pura-pura lupa terus maen bola, kalo ga, ga belajar terus minta contekan, terus ketauan deeeh… bukannya bagus malah nol. Ckckckckcck…. Hampir semua skornya yang udah masuk rapot merah semua, 22/39 dibawah KKM (yang ga merah cuma olahraga sama Inggris, Senna doyan Inggris). Bagus, selamat, anda MENDAPAT TIKET CEPAT BUAT GA NAEK KELAS!! Lucu sekaliiiii… soalnya sekolah SMP ama SD nya Senna cuma kenceng di DUIT nya aja. Papa ama mama Senna baru nyadar pas anaknya udah lulus SMP, uang sekolahnya lebih mahal 50% dari anak yang lain. Ternyata, oh ternyata, Senna dikasih contekan sama guru pengawasnya yang udah disogok sama kepala sekolahnya di SMP dan SD, jadi Senna dapet bagus mulu, sialnya itu semua gara-gara dikasih contekkan. Hahaha… makanya papa mama nya mindahin dia ke SMA Pusaka Bangsa yang dikenal disiplin, ketat, taat beragama, dan tentunya....SUSAH!! Karena itulah, Senna menganggap tempat ini adalah, NERAKA! Kecuali lapangan sepak bolanya yang lebuaaaar, banyak lomba sepak bolanya, dan cewe-cewenya yang lebih bermutu dari pada cewe-cewe yang dulu di SMP dan SD nya.
Kedua orang ini tidak berjalan di jalan yang sama, yang satu sangat pendiam, yang satu sangat ekspresif, sayangnya yang satu jenius, yang satu rada-rada ‘tidak pintar’. Kalau mereka menjadi satu maka itu akan menjadi sempurna... pertanyaannya adalah... mungkinkah? Bercanda kali….~ (=___=)
****
LAPANGAN OLAHRAGA SMA PUSAKA BANGSA
*PRRRRRRRRRIIIIIIITTTTT!!!!*,  ayo anak-anak kumpul semua! Ini kelas X........X-C, kan? Ok hari ini kita akan ambil nilai sepak bola!” kata Pak Dius, guru OR disini teriak-teriak di tengah teriknya sinar matahari. Pernyataan tersebut disambut baik oleh Senna dkk, tapi banyak juga yang mengeluh atau berkeluh kesah sendiri di dalam hati, termasuk Algea.
‘Aduuh. Kenapa mesti sepak bola? Itu kelemahan gue!’ , pikir Algea bingung dan resah.
“EHEM!! Ok,ok.... Saya minta ketenangannya!! 20 detik! Jangan lupa, ini sepak bola BERPASANGAN!! Silahkan pilih pasangan kalian masing-masing!! Bebas, ambil nilainya adalah tendangan penalti. Ada satu yang menjadi kiper dan satu menjadi penendang. Kalo bola masuk 1 nilai 75. 2, 80. 3, 85, dst. Silahkan pilih pasangannya sekarang, 3 menit! Kalo ga dapet nilai kalian 0!!” kata Pak Dius memberi penjelasan secepat kilat.
Anak-anak cewe langsung mencari temen-temennya ato pacarnya supaya bisa diajak kompromi, anak-anak cowo juga langsung mencari pacarnya mau diajak kompromi kalo ga konco-konco sehidup sematinya. Tapi yang paling lambat bergerak itu temen-temennya Senna, mereka pake bengong dulu, dan setelah 1 menit berlalu mereka menemukan kesimpulan, ‘JANGAN PASANGAN SAMA SI SENNA!!!’, maka setelah 1 menit berlalu Senna yang abis mikir mau pasangan sama siapa (yan pasti satu diantara temen-temennya) baru mau nengok ke mereka, mereka semua udah pada ngibrit duluan nyari orang lain secepet mungkin, sebelum dibantai sama si RAJA SEPAK BOLA!! Sennatya Wigiandra.   
“Woi.. Lu pada kenapa? Gu....gue gimana?” tanya Senna kepada temen-temennya.
“Wah, Sen. Semua udah pada dapet pasangan tuh, cuma lu doank yang belom. Co, coba cari aja...” jawab Raven, salah satu temen Senna yang paling pinter diantara semua, yang langsung nemplok sama cewenya.
“Gue juga nih, Sen. Udah ada yang punya.... Makanya cari cewe, donk, Sen. Fans lu kan banyak, gebet aja satu..” kata Mika, salah seorang temen Senna yang paling playboy.
“Ya elah, Mi. Sekarang gue tuh lagi nyari orang buat gue ajak ambil nilai, tentunya sportif, masa ambil nilai kompromi? Elu juga aneh-aneh, masa gue nyari orang lu malah nyuruh gue nyari cewe?” jawab Senna sewot, PANIK karena ga dapet pasangan buat ambil nilai. Masa akademik dia udah hancur mina, sekarang OR dia yang jadi tumpuan salah duanya dapet nol??? Biasanya dia kan dapet diatas 90!!
Mata Senna yang masih sehat itu (terlatih gara-gara kebanyakan maen sepak bola) melepaskan pandanangannya sejauh yang dia bisa, karena titik jauh seorang emetrop adalah unlimited (∞).Tiba-tiba Senna melihat sesosok gadis dengan kulit yang benar-benar putih, rambut yang agak kecoklatan, tubuh yang cukup tinggi (walaupun masih lebih tinggi dia), dan memakai kacamata ungu sedang berdiri sambil memandang ke samping, dan.... SENDIRIAN!!! SENDIRIAN!!! Tapi Senna juga ga tau nama cewe itu siapa, sekarang Senna ga peduli sama itu semua, dia cuma peduli sama AMBIL NILAINYA!! Maka dia langsung lari ga pake mikir, mendatangi cewe tersebut, gadis tersebut juga cuma bisa kaget waktu dia ngeliat ke samping ada cowo yang lari-lari sambil deketin dia, terus ngomong dengan hebohnya, seakan-akan bentar lagi ada kembang api yang bakal bakar dia sampe gosong,
“PLIIIISS!!! Lu belum punya pasangan kan? Gue jadi pasangan lu, ya? Gue juga belum dapet.” kata Senna cepat kepada Algea, yang Senna tidak tau namanya siapa. Algea yang juga memang belum punya pasangan sulit untuk menolak orang, tapi sebenarnya dia ga peduli sama nilai OR nya, toh dia bisa bagusin di akademik. Tapi untuk kali ini Algea ga bisa menolak karena ada seorang yang meminta kepadanya, dengan sangat amat. Makanya Algea cuma bisa ngangguk kecil sekali, dan langsung disambut oleh teriakan bahagia dari Senna.
“YAAAAAY!!!! Thank you, so muuuuuch!! Gue tunggu disana, ya.” kata Senna seraya menunjuk kearah gawang sambil nyengir-nyengir tanpa dosa dan penuh kebahagiaan.
Algea cuma bisa tercengang, ada anak yang ngajak dia ngomong! Algea tau siapa namanya, karena hampir setiap hari namanya terpanggil. Oleh para siswi yang suka kepadanya, para siswa yang memanggil namanya dengan teriak-teriak, dan oleh radio sekolah yang memanggil dia untuk menghadap kepala sekolah atau guru. Sennatya Wigiandra, anak paling bermasalah di sekolah, plus anak paling populer di sekolah. Algea cuma bisa menurutinya aja, maka dia pun menuju gawang tempat pengambilan nilai dilaksanakan.
“OK! Kita mulai dari nomor urut satu, Algea O...ooo.....ssss.... AAAH!! Susah bener namanya. Algea!!! Sini kamu, mana pasangannya?” tanya Pak Dius setelah marah-marah, abis nama Algea itu serius susah buanget. Waktu dipanggil pun Algea agak ragu untuk maju, tapi akhirnya dia pun berdiri. Waktu ngeliat cewe yang tadi dia minta jadi partnernya berdiri, maka Senna pun ikutan berdiri. Dengan bangga dan senang maju ke depan, dan berkata kepada Pak Dius,
“SAYA PAAAAAK!!! Saya partnernya dia. Hehehehehe....” kata Senna sambil mengacungkan tangannya tinggi-tinggi dan berdiri di samping Algea.
“..Ooh.. Ok... APA??!!! Tunggu, Algea, kamu serius yakin mau pasangan sama .... SENNA??!!! Nilai kamu di OR itu paling rendah satu angkatan! Bukan, satu sekolah!! Masa kamu mau pasangan sama anak yang nilai OR nya paling tinggi satu angkatan.. salah lagi… sekolah? Yakin kamu?” tanya Pak Dius kepada Algea. Algea sendiri juga baru nyadar kalo yang dihadapannya adalah orang yang paling sporty di sekolah, jadi kemungkinan Algea buat dapet 75 juga udah.... pupus.... Hahaha.... tertawa pasrah..
Algea cuma jadi bingung dan ga mau jawab apa-apa, malah dia jadi gagu 100%, ga kepengen ngomong sama sekali. Namun tiba-tiba Senna pun angkat suara, “Mau gimana lagi? Saya juga ga dapet pasangan. Tinggal dia doank sendirian, pak. Masa saya mau dapet nol? OGAH AMIT-AMIT PAK!!!!! Makanya bapak marain aja tuh si Raven, Mika, Raymont, ama si Kennedy. Masa saya ditinggal, mereka sama cewe masing-masing?? Ralat deh, pak. Si Raymont pasangannya si Ken, kan jomblo sehidup-semati saya. Hehehe... Tapi ga bisa gitu donk pak! Jangan menghalangi saya buat dapet 100 nih pak!! Nilai akademik saya udah jatoh ga bangun-bangun, masa seka—”
 “Iya, iya. Udah jangan kayak tante-tante lagi arisan terus bangga-banggain anak-anaknya masing-masing!!” potong Pak Dius, sangking herannya si Senna kalo ngomong bisa panjaaaaaaang banget, dan anehnya semuanya beralasan dan masuk akal, walaupun kadang cuma masuk akal di akal pikirannya Senna sendiri.  
Senna pun tersenyum penuh kemenangan, lalu bersiap untuk menendang bola ke gawang dengan jarak penalti. Sedangkan Algea cuma bisa pasrah sendiri dan bersiap di depan gawang dengan tampang cemas, menurut firasatnya mungkin habis ini dia akan mengalami sesuatu yang buruk. Maka Senna siap menendang bola, dan saat peluit Pak Dius dibunyikan, bola melesat dengan cepat, sehingga Algea baru berkedip sekali, bola tersebut sudah nampak di depan matanya dengan sedikit samar-samar, lalu dalam hati dia berpikir di ambang kesadarannya,
‘Pasti sakit,, dan.....*BUUUKK!!*, *BRUKKK!!!*, bola tadi nampaknya gol... dan strike... Bola tadi menghantam wajah Algea yang tanpa kacamata, dan tanpa kacamata Algea agak-agak dikit buta, bola tersebut tepat sekali di tengah sampai menimbulkan bunyi yang keras, disusul dengan suara ambruknya tubuh Algea ke tanah, tentunya dengan......kepala yang BERDARAH!! Sepertinya tendangan Senna terlalu keras sampai membuat kepala Algea membentur aspal dan......BOCOOOOR!!!! Senna yang orangnya ga peka ga nyadar kalo partnernya bisa mati gara-gara dia.
Semua orang yang melihat adegan itu pun cuma bisa tercengang singkat selama 5 detik, dan akhirnya semua orang pun tersadar dan muali PANIK!!
“..SENNAAA!!! Lu gila, ya? Liat tuh anak terkapar tak berdaya gitu di aspal….. UWWOOOHH!!!! SENNAAAAA!!! Kepalanya bocor!! Gila lu!! Tanggung jawaaab!!” kata Raymont yang emang bawelnya mau mati dan orangnya sotoy abis.
Sedangkan Senna yang masih agak-agak ling-lung baru mulai mau ngedeketin Algea dengan tampang innocent-nya, bukan gara-gara ga merasa bersalah atau apa, tapi soal beginian Senna emang paling lemot. Sampe dia mendekati Algea yang terbaring di tanah dengan sedikit darah yang membasahi lantai lapangan yang aslinya berwarna hijau rumput yang membuat otot-ototnya menegang, kaget, dan otaknya makin ga bisa jalan. Dia malah merasa lambungnya terkocok, dan mulai menyadarkan dirinya sendiri, lalu segera mendekati Algea dan menggendong dia, segera membawanya ke UKS. Pak Dius pun masih kaget, syok, langsung nyadar sekali ngeliat si Senna lari-lari ke UKS dengan Algea di tangan, dan sedikit darah yang mengucur dari kepala Algea yang membasahi lengan kanan Senna.
Pak Dius memberikan instruksi kearah semua murid kelas X-C, “SEMUA!! Jangan ada yang panik dan ngelapor, biar saya yang urus. Ingat, semua tetap di lapangan. Jangan ada yang nyebar kemana-mana, saya takut kalo begini nanti orang tuanya Algea bakal ngadu ke sekolah dan Senna kena masalah lagi.” kata Pak Dius mengkhawatirkan anak muridnya yang dia bingung harus sayang atau sebel gara-gara kelakuannya yang ‘AAAAAAARRRRRRGGGGGGHHHH!!!!!’ alias ngebingungin dan nyusahin.
****
UKS
Senna duduk di samping ranjang putih kecil yang ada di UKS dengan tangan yang mengepal, tubuh yang bermandikan keringat dan baju yang sedikit berwarna merah, mata yang terpejam takut, dan kepala yang tertunduk, hanya bisa berdoa memohon kepada Tuhan. Senna takut, jujur saja baru kali ini Senna mengalami kejadian seperti ini, kejadian yang berat dan berbahaya. Membuat salah seorang temannya terluka, terluka parah. Apalagi temannya tersebut adalah perempuan, dan bahkan Senna belum mengenal baik dirinya, kalau boleh bilang Senna baru pertama kali menyadari keberadaannya.
Pak Dius yang sedang berbicara dengan dr. Joann, dokter UKS merasa sedikit lega saat mendengar keadaan Algea yang tidak terlalu parah. Dia hanya perlu istirahat selama beberapa jam saja, karena luka di kepalanya tidak terlalu dalam, hanya sedikit terbuka karena membentur aspal dan akhirnya mengeluarkan darah. Bukan hal besar, luka biasa dan untungnya tidak terkena bagian vital.
Pak Dius pun menghampiri Senna yang wajahnya beraut cemas dan khawatir. “Senna, kamu balik aja ke lapangan dulu. Kamu ambil nilai sama saya aja, dia gapapa kok.” Kata Pak Dius menasehati Senna.
 “Ga mau, pak. Gimana pun dia luka gara-gara saya, saya harus tanggung jawab. Saya bakal jagain dia disini sampe dia sadar. Bapak kasih saya nilai nol juga gapapa, karena saya yang bikin dia begini, ini salah saya. Saya tanggung jawab, saya harus tanggung akibatnnya. Nol pun gapapa. Yang penting saya tau dia selamat. Sampe dia sadar. Itu kepastiannya.” Jawab Senna dengan berputar-putar, karena grogi, takut, dan syok.   
“Ya udah, saya duluan ya.” Pak Dius menepuk pundak Senna pelan. Senna pun masih tertunduk takut. Dan Pak Dius langsung meninggalkan mereka berdua bersama dengan suster dan dokter yang sedang piket di UKS. Senna hanya bisa berdoa dalam hati, memohon kepada Tuhan supaya gadis yang kalau dia tidak salah ingat namanya adalah Algae ini bisa cepat sadar. Dia tidak mau kalau terjadi apa-apa dengan gadis di depannya ini.
Yang terbayang di benak seorang Senna adalah caci maki yang akan diterima oleh orang tua gadis yang terbaring kaku ini, lalu hukuman yang datang dari orang tuanya berupa tidak boleh main sepak bola untuk selamanya, dan artinya itu adalah kiamat bagi Senna.  
“Senna, ini minum dulu teh manisnya.” Dokter Joann datang dan memberikan Senna secangkir teh manis hangat sambil tersenyum dan menepuk kepala Senna dengan lembut. dr. Joann dan Senna cukup dekat, karena Senna sangat sering datang ke UKS dengan keadaan yang bermacam-macam. Mulai dari luka gores, luka saat jatuh di aspal depan sekolah, dan bahkan dia pernah jatuh dari lantai 2 sampai tangan kirinya patah. Jadi, bisa dibilang dr. Joann bukan kenal lagi dengan Senna, tapi bosen melihatnya mondar-mandir UKS selama hampir setengah tahun ini. Tapi nampaknya hari ini beda, dia datang bukan gara-gara dia yang terluka, tapi dia membuat seseorang terluka.
“….Dia….gimana, dok?”
“Hoo…. Dia ga apa-apa kok…. Emang kenapa? Kok kamu kayak takut gitu?”
“So..soalnya selama ini saya ga pernah bikin orang luka. Apalagi cewe…. Gimana reaksi orang tuanya, ya? Dokter juga punya anak perempuan ‘kan? Kalo dokter yang jadi mamanya Allllllllll….Al…Al…. siapa, ya? Algae kalo ga salah…. Reaksi dokter gimana?”
“Ya ampun, Sen…. Saya tau kamu itu awful banget di pelajaran, tapi ga nyangka, kamu awful juga di ngafalin nama temen sekelas kamu. Saya juga ga pernah liat dia sih, yang saya tau dia itu anak super jenius…. Karena guru-guru sering ngomongin dia di ruang guru. ‘Kan saya kadang sering mejeng di ruang guru kalo lagi nganggur ato pulang sekolah….”
“Ya itu saya juga tau. Saya pernah penasaran orang kayak apa sih yang berhasil jadi manusia yang dapet juara umum di neraka ini, terus saya liat dia diatas panggung. Eh terus, dok, reaksi dokter gimana?”
“Uumm…. Mungkin saya bakal marah? Tapi kalo saya sih bakal nanya alesannya dulu. Kalo emang ga sengaja, ya, mau apa lagi? Asal anak saya ga kenapa-napa banget….”
“Ooh…. Semoga mama papanya dia juga punya pikiran yang kayak dokter deh….”
“Yup…. Tapi saya kira dia blaster lho…. Kulitnya putih dan mulus kayak porselen, rambutnya coklat dan sedikit ikal kayak boneka, terus badannya tinggi semampai. Walaupun bentuk wajahnya masih Asia banget…. Indo banget.”
“Seinget saya matanya warna abu-abu.” Senna mengingat-ingat sosok Algea yang masih asing dan baru dikenalnya selama ± satu jam lebih yang lalu sambil berguman ala kakek-kakek….
“Oh, really?”
“Yup….”
“Wow…. Ga pernah saya nemuin orang kayak gini. Eh, kata kamu dia gimana? Boleh lah, ya?”
“Cakep kok…”
“Wuuuooohhh…. Senna mulai berani, ya?” dr. Joann menanggapi perkataan Senna dengan semangat dan ketertarikan tinggi.
“Tapi saya ga tertarik sama orang pinter!” Senna menegaskan sambil mengepalkan tangannya, dan memukulkan tangannya ke dada…. Aneh… biarin deh~
“…HHEEEH!! Kamu tuh, ya, udah awful di akademik, sekarang ga suka orang pinter. GIMANA SIIIIIH??!! Yang ada kamu emang harusnya cari cewe yang pinter, untuk memperbaiki keturunan!”
“IDIIIH!!! Dokter mah jahat!” Senna pura-pura ngambek.
“Itu kenyataan, Senna!!” dr. Joann menjitak kepala Senna pelan, yang membuat Senna spontan meringis kecil dan manyun kayak bocah, sedikit lebih relax.
“Dok, waktunya pemeriksaan gigi anak-anak TK di klinik TK. Dokter harus bantu Dokter Susan ‘kan?” Suster memanggil dr. Joann untuk segera pergi ke gedung TK untuk melakukan kewajibannya selanjutnya.
“…Oh ya! Nah, Senna, saya pergi dulu, ya. Ini ada satu cangkir teh manis lagi. Nanti kalo dia udah sadar kasih dia minum, ya…. Temenin, lho. Seengaknya sampe saya balik. Ok?”
“OK, dok…. Ati-ati anak TK-nya jangan sampe pada ompong sama dokter dicabutin semua giginya. Mentang-mentang semuanya gigi susu. Hehehe….”
“HEH!! Kamu kira saya dokter yang ga punya lisensi, HAH??!!! Gile, yaa…. Emang sih saya bukan dokter gigi, tapi ‘kan saya dokter anak! Kalo gitu ceritanya mah saya udah masuk penjara dari zaman kapan tau!! Lagian disana saya cuma bantu-bantu Dokter Susan!! Dokter Susan ‘kan dokter gigi!”
“Iyaaaa…. Udah, sanaaaaa…. Ntar anak-anak TK-nya pada nungguin tuuuuuh…. Gih, gih…. Shyuu….”
“Kucing apa kamu usir-usir, ini ‘kan tempat saya!! Ya udah, saya pergi dulu. Tempat saya jangan digratakin!!”
“OK bosss…. Aye-aye siiiiiir!!”
Dr. Joann pun pergi bersama suster ke klinik TK meninggalkan Senna dan Algea yang pingsan berduaan di dalam UKS yang terkenal akan AC nya yang paling dingin satu sekolah. Kata dokter sih biar kumannya pada mati. Tapi kalo anak-anak yang demam masuk ke sini, yang ada mereka malah tambah kliengan….
“….Huh…. bosen niiih…. Tapi…. Enaknya gue bisa skip pelajaran sampe si Algae sadar. Hueueueue….”
Tanpa Senna sadari, Algea yang terbaring di ranjang UKS tersebut mulai sadar setelah ± satu jam lewat terbaring tak sadarkan diri disana. Entahlah bagaimana, tapi kesadarannya mulai pulih, dan dia pun mulai membuka matanya sedikit demi sedikit. Dia masih melihat lampu UKS yang berada tepat diatasnya dengan penglihatan yang samar-samar alias buram. Kesadarannya memang belum 100% kembali, tapi dia sudah mulai berada di dunia ini lagi.
Dimana? Ung, bau ini? Asing banget…. Ga pernah kesini. Tapi bau obat…. Bikin mual…. Inget kayak waktu di rumah sakit. Berarti ini… UKS. Gue kenapa? Oh ya, bola…. Pingsan. Huh, nyebelin banget. Makanya gue benci sepak bola….Algea memegangi kepalanya yang diperban dan terasa nyeri dan mulai mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya. Dia pun berusaha untuk duduk, tapi tubuhnya belum kuat untuk bangun sendiri. Hampir saja dia kembali ke posisi tidurannya, namun ada tangan besar dan kuat yang menopang tubuhnya dan membantu tubuhnya untuk duduk di ranjang UKS itu.
“Ooops…. Let me help you. Lu pasti masih lemes, abis tadi lu kayaknya parah banget…. Yup! Udah…. Feeling better now?” Senna bertanya dengan raut wajah yang sedikit cemas sedikit lega, pokoknya campur aduk! Sekarang dia cuma pengen tau keadaannya temennya ini.
“.... Fine. Cuma sedikit dizzy….” Spontan Algea ikut-ikutan menjawab dengan bahasa campur aduk juga, karena ditanya dengan bahasa yang juga campr aduk. Biasa, inget persamaan fisika, AKSI = REAKSI. Dan disini persamaan tersebut terbukti benar…. J
Algea yang sudah dalam posisi duduknya masih memegangi kepalanya yang masih sedikit ‘nyut… nyutt…. Nyuuuu~tt’, dengan mata yang masih mencoba untuk membiasakan diri dengan keadaan, sehingga apapun yang dilihatnya saat ini masih terlihat samar-samar. Bahkan dia belum menyadari siapakah manusia yang sedari tadi mengajaknya bicara dan menjaganya di UKS ini….
“Ung…. Sorry….” Ujar suara itu lagi kepada Algea. Algea yang akhirnya sudah mulai bisa melihat sedikit hanya meminta sesuatu,
“Kacamata. Tanpa itu gue agak buta.”
WHAT?! Lu buta?!! Gara-gara gue ya? Kayaknya tadi lu bisa ngeliat?! Sekarang lu buta?!! Gara-gara gue…?!! Hadooooh!!!!! Mati lah gueee~ Sepak bola selamat tinggal!! Kiamat selamat datang!!” Senna yang memang agak ling lung, agak telmi, dan agak sedeng malah salah mengerti dan akhirnya mengambil kesimpulan sendiri, kalau ternyata yang membuat Algea buta adalah dirinya. Dasar anak aneh…. Padahal Algea cuma bilang dia AGAK buta. Perhatikan kata agak di perkataan Algea yang ada diatas!
“Hah? Bukan…. Maksudnya agak buta itu mata gue mata miopi, dan miopi gue parah. Jadi kalo ga ngeliat pake kacamata kelihatannya ga jelas.” Algea malah bingung dan akhirnya menjelaskan perihal matanya yang minus dengan bahasa biologi….
“….NAH ‘KAN!!! Lu malah jadi kena penyakit aneh. Miopi lagi…. aduuuuuh!!! Kiamat I’m comiiiiiinggg!! Wait for me in front of the gate of the hell…~” Nah, berhubung Senna itu (maap) agak-agak (maap banget) bolot, dia malah jadi makin ga ngerti dan akhirnya malah jadi makin rusuh.
Oh please! Maksud gue mata gue minusnya gede, jadi ga bisa liat jelas kalo ga pake kacamata. Ngerti minus ga?” Algea yang makin pusing akhirnya malah menjawab lagi dengan sedikit kehabisan kesabaran…. Baru kali ini dia ngomong sama orang yang ga bisa diajak ngomong dengan stylenya, intelek…. Dan singkat…. Dan ga buang-buang waktu, tenaga, dan kata-kata….
“Minus? Oh…. Iya gue ngerti sekarang!!! Bentar, kalo ga salah kacamata lu tadi dibawain sama Raymont…. Dimana, ya? Oh!! Itu dia di mejanya dr. Joann. Nah…. Nih!”
“….huff, thanks.” Algea pun segera meletakkan kacamatanya di alamnya, yaitu di wajah dan di depan mata Algea. Saat dia membetulkan letaknya sehingga terasa lebih nyaman, Senna masih tetap diam di tempatnya, di kursi yang ada di samping tempat tidur UKS tempat Algea duduk. Setelah Algea merasa matanya sudah bisa melihat dengan baik, dia pun memutuskan untuk tahu terlebih dahulu, siapa gerangankah yang sedari tadi diam disini untuk menjaganya? Suaranya berat dan super nge-bass….
   Waktu dia menengok, yang bisa dia lakukan hanyalah mengerjapkan matanya berulang kali, takut matanya masih ada sedikit gangguan. Kenapa? Karena yang ada di sebelahnya itu adalah seorang pemuda yang sama sekali ga pernah ada urusan sama dia sebelum insiden ‘pasangan terpaksa mau-ga-mau’, Sennatya Wigiandra.
“Terus lu gimana sekarang?” Senna yang melihat Algea memandang lurus kearahnya pun membuka pembicaraan.
“Gapapa. Cuma…. Kaget….”
“….uuumm, So-so-sorry banget ya. Gue…. Bukannya sengaja pengen nyakitin lu.”
“Iya.” Algea cuma bisa menjawab dengan singkat sambil memegangi kepalanya yang diperban. Sebenernya sih dia cuma penasaran dan megang doank berhubung dia ga pernah diperban, tapi dasar Senna yang terlalu over, dia malah jadi berprasangka buruk yang nggak-nggak….
“Sakit ya?! Kok dipengangin? Eh, serius gue ga sengajaaaa~~ gue ga bermaksudddd~~~ Sorryyyyyy~~~ HUEEEE~~~” Senna malah jadi mewek ala bocah…. Dan itupun langsung membuat Algea makin lama makin bingung, dan kehabisan ide, akhirnya dia pun mengatakan sesuatu yang tiba-tiba lewat di kepalanya tanpa maksud tertentu, hanya isi hati seorang penulis tanpa nama….
“Iya, iya, lu ga mungkin mau atau berniat nyakitin gue. Senakal, sebandel, sebermasalah apapun lu, lu bukan orang yang jahat, walaupun gue ga pernah kenal lu, gue cuma selalu ngeliat lu dari jauh gue tau kok.” Algea hanya bisa kaget sendiri saat dia berkata seperti itu. Selama hidupnya itu adalah satu perkataan yang paling panjang yang pernah dia ucapkan.
Senna yang tadi masih ingusan gara-gara nangis ala bocah, langsung nyedot ingusnya dan cengo bego. “Makasiiih…. Lu baek banget…. Algae…..” Katanya dengan mata berbinar-binar kearah Algea…. Tapi salah nama…. (=__=)
“….Al-Algae? Bukan, nama gue Algea.” Algea yang kaget namanya berganti jadi nama tumbuhan Algae pun langsung mengoreksinya. Yah, ga heran Algea agak kagok. Dia ga pernah ketemu orang yang salah menyebutkan namanya, yah, secara yang manggil nama dia cuma guru yang punya daftar nilai. Soooo, nama dia ga pernah salah disebutin. Nah ini? Yang salah nyebutin adalah temen pertama yang ngajak dia ngomong sebagai seorang….teman? mungkin…. Kita emang susah deh ngertiin pikirannya si bocah ilang, Senna.
“Hah siapa? Algae ‘kan? Nama lu kayak pernah gue liat di ulangan biologi, ditulisin gede-gede sama Bu Kristan. Algae, lucu…. Itu yang warnanya ijo-ijo biru-biru itu ‘kan? Kok lu ga ijo-ijo biru-biru sih?”
“Bukan Algae. Algea. Karena gue manusia bukan Algae.”
“Hah? Algae? Lho Algae itu apaan? Gue tau warnanya ijo biru, tapi bukannya itu orang ya?”
“Algea. Dan algea itu tumbuhan.”
“Algee? Algaa? Tumbuhan ya, gue kira orang….”
“Algea! A-L-G-E-A!! ‘E’ nya dulu baru ‘A’. dan bener banget kalo Algae itu tumbuhan! Tapi nama gue ALGEA.” Algea kehabisan kesabarannn~ namanya dibikin sendiri sesuka-sukanya sama Senna.
“Algea  bukan?”
“Iya.” Akhirnya…. Algea cuma bisa menjawab singkat sambil berguman….
“Kok kayaknya lu ga pernah gue kenal deh…. biasanya lu dimana? Gue ga pernah liat…. Gue juga ga pernah denger suara lu…. Gue ‘kan paling pinter ngapalin suara orang.” Senna hanya mengeluarkan pertanyaan polos tanpa ada maksud apa-apa.
“…Gue di kelas. Selalu. Tapi ga pernah ngomong.” Algea hanya menjawab seadanya tanpa tambahan, tanpa diskon (?), hanya dia yang seadanya. Kenyataan yang ada.
“Bohong. Lu ga pernah ke kantin?” Senna cuma bengong dengan otak yang ga mau jalan dan mulai berpikir kalau di depannya ini adalah makhluk ajaib.
“Ga. Gue bawa bekal. Lu pasti lagi mikir kalo gue ini spesies baru.” Algea langsung menebak isi otak Senna dengan tepat dan langsung membuat Senna kaget.
“Lu dari planet mana sih? Ke kantin ga pernah, ngomong ga pernah, terus bisa baca pikiran gue.”
“Gue dari bumi.” Algea menjawab datar.
“Beneran?” Senna bertanya dengan nada yang sangat ingin tau.
“Iya.” Algea menjawab lagi tanpa intonasi.
“Bohong lu.” Senna berkata sambil mengancungkan kedua jari telunjuknya yang dia letakkan di bawah dagunya kearah Algea.
“Ga percaya ya udah. Gue ga akan mau ngomong kalo bukan orang lain yang mulai duluan dan emang perlu banget dijawab dan bharus dijawab dengan kata-kata, jadi intinya lu adalah orang pertama yang ngajak gue ngomong dan berhasil bikin gue ngomong sepanjang ini dengan ke-telmi-an lu.” Algea hanya menjawab dengan SEADANYA dan hanya dengan KENYATAAN yang ada, dimana dikatakan kalau Senna itu TELMI.
“Wah, aku telmi….” Senna hanya menjawab polos sambil bergurau canda. Ala Senna banget.
Algea sudah kehabisan bahan untuk diomongin selama belum dikasih bahan yang pasti harus dijawab olehnya karena Senna itulah yang dianggapnya sebagai makhluk dari planet lain karena telminya ga nahan.
“Ya udah, karena lu udah terlanjur banyak omong mending lu sekarang kenalan dulu sama gue. HALOOOOO~~ Saya Sennatya Wigiandraaaaa~~ Selamat kenaaaaall~~” Senna menjulurkan tangannya, mengajukan jabat tangan.
“…. Sebentar, emang ada selamat kenal, ya? Yang gue tau cuma salam kenal.” Algea, ms. Perfectionist langsung mengoreksi kesalahan yang dibuat oleh Senna, sengaja dan tidak keceplosan. Setau Senna selamat kenal itu ada…. (=____=)
“Oh, ga ada, ya? Ya udah, HALOOOOOO~~ Saya Sennatya Wigiandra super keren tiada bandingannya, Salam kenaaaaaaaaaaaaaaaaallllll~~”
Ini anak polos, bego, bolot, telmi, apa bocah sih? Gue ampe bingung sendiri. Dipastikan nih, ni akan bakalan masuk museum waktu udah mati…. Algea tak habis pikir tentang spesies amuba baru (?) yang muncul di depannya sambil tersenyum dengan gigi berderet dan tangan yang meminta sebuah jabatan yang hangat.
“Kenapa? Ayo salamaaaan!!” Senna langsung meraih tangan Algea tanpa minta izin dan mengaitkannya di tangannya, mereka pun berjabatan tangan (by force).
Algea tersentak kaget saat tangannya diraih begitu saja, lalu dipaksa untuk bersalaman. Dia tidak biasa, tapi ya sudahlah…. Itu sudah terlanjur terjadi, dengan seorang yang bernama Sennatya Wigiandra. Tapi setelah bersalaman Algea segera melepaskan tangannya perlahan, dan hal itu membuat Senna mengambil kembali tangan Algea dan menggenggamnya lagi. Tentu saja Algea bingung, “Kenapa,” tanya Algea kaget, “tangan gue…?”
“Lu ini diajarin cara kenalan ga sih? Gue aja yang bego (aduh dia ngaku sendiri…) ngerti tata krama…. Masa lu yang juara umum setiap taon ga ngerti cara kenalan? Gini lho,” Senna mengambil tempat duduk di bagian samping ranjang UKS sambil masih memegangi tangan Algea untuk memaksanya salaman, lalu melanjutkan pembicaraannya,
“ Kalo orang udah memperkenalkan dirinya duluan dan mengajukan jabat tangan, maka orang yang diajak ngomong harus membalas jabat tangan itu plus harus memperkenalkan dirinya ke orang yang tadi udah memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, gitu lho. Masa lu ga tau sih?” Senna masih bingung dan masih memegangi tangan Algea tanpa dosa….
Algea yang masih risih tangannya dipegang terus dari tadi malah jadi ga bisa bereaksi dan akhirnya malah spontan diem ga bergerak satu otot pun.
“Nah ‘kan, ini dia kenapa gue ga suka orang pinter. Lu itu terlalu pinter dan terlalu terpaku sama buku daripada sama sosialisasi yang harusnya lu udah bisa sendirinya tanpa perlu buku teori dan diajarin. Kemana sih ortu lu? Ayo sekarang lu kasih tau nama lengkap lu donk! Udah gue ajarin ‘kan cara kenalan….”
Algea yang tadi risih sekarang malah merasa tersinggung saat orang tuanya dibawa-bawa oleh Senna, dan mereka disalahkan karena tidak mengajarkan dia tentang tata krama yang benar. Algea sendiri tau kalau sebenarnya dia ini tidak lahir tanpa orang tua. Tapi sejujurnya Algea pun hanya ingat samar-samar tentang sosok kedua orang tuanya itu, tetapi dia langsung bertemu misionaris yang membiayainya saat usianya 6 tahun dan mengatakan kalau dia ditemukan disini, dan mengatur hidupnya sebagaimana sekarang ini setelah orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil, sedangkan dia selamat tapi bingung mau melakukan apa. dulu itu dia hanya gadis kecil yang setidaknya mengerti bahaasa Indonesia (Algea itu bilingual soalnya mamanya orang Indonesia. Tapi papanya orang Russia) Tapi bagaimana pun mereka adalah orang tua nya, dan semua anak secara alamiah akan merasa marah saat orang tuanya diejek, termasuk seorang seperti Algea sekalipun.
Spontan Algea menarik tangannya dengan paksa, dan sebelum Senna mengambil tangannya,  menceramahinya tentang hal yang baginya tak penting, dan menghina orang tuanya lebih lanjut, dia menarik tangannya dan langsung berlari dan berniat untuk kembali ke kelas. Namun sebelum dia keluar dia masih sempat berbalik dan berkata, “Lu ga perlu nasehatin gue. Lu ga akan pernah ngertiin gue.”
Senna yang masih duduk di ranjang cuma bisa memandang bingung dan kaget kearah Algea yang kini sudah berlari kecil kembali ke kelas meninggalkannya sendirian di dalam UKS. Senna sama sekali tidak mengerti kenapa dia diperlakukan seperti itu, dia tidak tau apa salahnya. Kenapa Algea bisa tiba-tiba marah kepadanya…. Tapi Senna ingin tau…. Tapi…. GIMANA CARANYA?!! Senna sekarang cuma bisa garuk-garuk kepala sambil kebingungan…. Dan dia pun baru sadar akan sesuatu…. Saat menyadarinnya dia langsung mengambil botol minumnya dan ngibrit secepatnya, kemana? KE KELAS….
****
DI KELAS X-C
“Maaf, bu. Saya baru abis dari UKS.” Untuk pertama kalinya Algea berbicara kepada guru yang ada di kelas. Sebisa mungkin Algea itu tidak pernah memulai pembicaraan terlebih dahulu, termasuk kepada guru. Karena waktu diberikan hasil ulangan Algea hanya akan mengangguk tanda dia berterima kasih, kalau ditanya biasa Algea cuma mengangguk tanda mengiyakan dan menggeleng tanda menidakan. Selain itu Algea tidak pernah minta izin untuk ke toilet, untuk ke UKS, dan Algea tidak pernah bertanya berhubung dia ini adalah seorang jenius.
Jadi karena ini adalah pertama kalinya Algea mengeluarkan suara lembutnya di depan orang banyak, Algea cuma bisa jadi bahan tontonan tiba-tiba. Gurunya sendiri pun kaget, karena ternyata suara Algea yang dikira orang-orang itu jelek, kasar, aneh, atau ternyata Algea itu sebenernya bisu, semua pernyataan gosip-gosip itu SALAH TOTAL!
Tapi berhubung guru kimia mereka, Bu Sindy terlalu kaget buat bereaksi, dia pun diem aja. Algea yang masih merasa sedikit pusing milih buat langsung duduk ke tempatnya yang ada di depan meja guru. Algea masih pusing, tapi dasar anak rajin, dia milih dengerin pelajaran walaupun pusing daripada harus ketinggalan pelajaran kimia, walaupun dengan keadaan yang masih ga jelas gimana karena belum di periksa secara detail dan masih diobati dengan perban biasa.
Tiba-tiba pintu kelas pun terbuka dengan keras, dan muncullah seorang pemuda tinggi kurus yang bercucuran keringat. Dengan polosnya dia berkata, “Hai bu, saya duduk, ya.” Lalu segera berlalu ke kursinya yang terletak di baris bagian belakang berdekatan dengan sobat-sobatnya.
Bu Sindy yang memang tidak senang dengan Senna yang nilainya selalu acak-acakkan itu langsung menegur Senna dengan nada yang marah, “Apa kamu? Hai, hai. Terus langsung duduk. Kamu bahkan belum bilang kamu itu dari mana. Kasih tau dulu ke guru kamu donk! Kamu ini ga tau sopan santun, ya? Abis dari mana kamu, hah?!”
“Saya abis dari UKS, bu. Beneran, bu. Kalo ibu ga percaya ibu tanya aja si Algea, tadi saya abis nemenin dia di UKS. Soalnya pas jem olahraga Algea luka gara-gara saya. Iya ‘kan?” Senna seakan bertanya kepada Algea dan memintanya untuk memberikan kepastian. Tapi Algea yang tidak merasa ditanya, dan masih kesal kepada Senna diam saja.
Bu Sindy langsung melihat kearah Algea dan meminta jawaban darinya. Algea hanya menjawab dengan anggukan kepala, khas Algea. Bu Sindy tentu aja bisa langsung percaya sama Algea, berhubung dia pinter dan selalu dapet nilai bagus di pelajarannya. Jadi untuk sekarang masalah di kelas selesai….

Happy BIRTHDAY Onee-chaaan... Otanjoubi omedetou neee~~
Tuh 'kan onee-chan, JW menepati janji. JW 'kan imotou-tan yang baik.. :D
walaupun akhirnya cuma selesai 1 bab... TTwTT
Yah, dimaklumi lah. Nee-tan juga tau gimana nasib kita sebagai sekretaris, sekretaris, dan sekretaris... Hahahahahaha... HAAAAAH!! CAPEEE!! GROAR AUUUUM~~
Yah, begitulah.. Tapi lewat sehari. Ya udahlah yaaaa~ Hehehehe~~

BEST REGARDS, 
JW~~~~

Monday, August 8, 2011

Secarik Harapan di Balik Tirai Harmoni.. (part-1-)

Ini adalah cerita awal tentang Leona, seengaknya kalian bisa sedikit lebih kenal sama Leona. Jadi saya post. Walaupun pendek, tapi seengaknya ini adalah cerita awal dimana Leona ketemu sama Winston Deferrson...


Awalnya kita bersua karena kewajiban semata….
“Kalian semua ibu panggil disini untuk ikut acara padus gabungan seluruh PELIM dalam acara Paskah…”
Awalnya hanya dimulai dengan kekaguman semata….
            “Le, liat deh. Yang maen keyboard cakep ya….”
            “Umm… boleh lah, charming…”
Padahal itu dimulai dengan cinta pertama ku,
            “Gue suka sama lu. Delfin juga bilang lu suka gue. Mau jadi cewe gue?”
            “Uuummm…. Sebenernya bener kata Delfin, gue juga suka sama lu. Jadi…. Boleh deh.”
yang kuakhiri begitu saja karena dustanya padaku….
            “Jadi dia itu bohongin gue waktu masalah gue sama Gita! Udah deh, gue males berhubungan lagi sama dia!”
 Walaupun sebelumnya peringatan yang ‘dia’ berikan itu ada….   
            ‘Dede, jangan sampe suka sama Winston, ya…. Dede sayang koko ‘kan?’
            ‘Iya. Ga akan. Gimana mungkin, kita bahkan ga pernah ketemu.’
            ‘Tapi orang bisa suka sama seseorang lewat SMS.’
            ‘Haha…. Kayaknya buat dede nggak deh….’
Saat awalnya kau mengenal ‘dia’ dan mendapati rasa penasaran tentang diriku kau mulai mengajak untuk mengenalku lewat pesan…. Baru sedikit….
            ‘Hai, lu cewenya Karrel ya?’
Sayangnya kita sudah selesai, cukup sampai disini…
            “Kita putus. Semua selesai.”
            “Tapi de…. Kenapa?”
            “Lu ga perlu tau. Itu urusan gue. Tanya aja sama orang yang gue kasih tau.”
Saat dusta itu muncul di depan wajahku, aku berteriak dan kita tak pernah lagi berhubungan…. Sampai akhirnya suatu kali aku mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali bertemu denganmu….
            “Le, ikut TGC Tomang, yuk!”
            “Boleh… kayaknya asyik tuh!”
Dan disanalah benih cintaku mulai tumbuh bagimu, hanya sesaat kau memanggilku untuk pertama kalinya, lalu semua berubah dimataku…
            “Hai..”
            “Akhirnya lu berani juga nyapa gue…. Nah sekarang udah keliatan ‘kan batang idungnya?”
            “…Uuunngg… Kagak tuh?”
            “Buta, ya lu? Hahaha….”
Larangan dan kecemasan ‘dia’ yang telah kulupakan menjadi kenyataan. Aku menyangkalnya di awal cerita. Itu karena bahkan cerita ini belum dimulai….
Jadi disinilah semua kisah kita bermula….
Secarik Harapan Dibalik Tirai Harmoni…
**********************************************************************************
Aku melihatmu disana... Tak jauh, namun sosokmu tak sanggup kuraih…
Jikalau akhirnya kau datang, maka itu hanyalah karena anugerah… 
Hanya harapan dibalik dentingan harmoni...
*********************************************************************************
Hai…. Aku Leona Alexandria Windara. Namaku pasaran, ya? Banget kali…. Tapi jujur aja, aku seneng sama namaku sendiri (jangan bilang aku narsis!!), abis pelafalannya enak. Le-o-na.
Kalo nulis aku sering pake aku-kamu. Tapi ngomong jarang sih, paling kalo ngomong sama sepupu-sepupuku doank aku pake aku-kamu. Kenapa, ya? Kayaknya emang udah keturunan deh…. Khekhekhe…. Terus di rumah itu aku sering ngomong pake bahasa Mandarin, soalnya mamaku itu guru Mandarin. Kadang justru kalo ada barang yang aku mau atau mau minta izin, aku harus bisa ngomongnya pake bahasa Mandarin. Kalo enggak keinginanku ga bakalan dipenuhi. Hiiikkkssss! Tapi enak juga sih, gara-gara itu aku jadi gampang buat ngomong bahasa Mandarin. Walaupun untuk tulis-menulis aku lemah, cuma ngafal doank. Hoho…. Kalo ngomong, aku bisa…. Jago malah… Wahahaha… (Aku ga nyombong kok. Cuma bangga. Beda ga tuh?). Karena itu aku jadi murid kesayangan Lao Shi-ku. Lao Shi Fresya. Hehehehe.
Ngomong-ngomong, kok aku jadi ngomongin mamaku melulu, ya? Ehem, aku ceritain tentang aku sendiri juga deh…. Aku lahir tanggal 8 Januari 1997. Aku cinta musik, kesenian, sedikit sastra, sayang aku ga terlalu suka olah raga, kecuali bulu tangkis. Aku sering banget maen bultang pas pulang sekolah sama temen-temenku. Cuma mamaku sering mencak-mencak, karena kulitku yang cenderung cepet hitam, jadi kalo abis maen setelah pulang sekolah kulitku pasti bakalan tambah item lagi, dan item lagi, terus sampe sekarang ga balik-balik putih lagi. Hohoho….
Oh ya, tambahan, aku ini bener-bener seorang yang ditakuti sama cowo-cowo di kelas. Entah kenapa, tapi nampaknya mereka takut sama aku yang ga takut jorok, dan juga pukulanku yang pedas mantab. Aku orangnya gamblang dan selalu ngomong apa adanya, juga terkadang terlalu kepengen tau segalanya, sampe kadang bikin temen-temenku sakit hati. Yeah, that’s my bad part….
Hobiku baca komik. Saya gila, selaluuu…. Anime juga begitu kok. Hehehe…. Aku cinta JEPANG! Makanan, anime, komik, novel, tempat wisata, pesawat terbang (?), budaya, bahasa, dll. Tapi kalo artis aku lebih suka KOREA! Yaaah… SUPER JUNIOR! Itu grup kesukaanku. Mungkin aku udah bisa masuk sebagai ELF (Ever Lasting Friend), sebutan buat fans-fans Suju. Tambahan lagi, sekarang akupun B2UTY (bacanya BEAUTY, alias sebutan buat fans-fans nya B2ST [bacanya BEAST])
Hehehe…. That’s all about me, thanks for ‘see’ this stupid and useless hand-writing about myself. Hohoho….

                                                                         
                                                                                                     (Leona Alexandria)­
“Heh…. Le, lu mulai ga waras ya? Jem bebasnya pelajaran komputer lu malah nulis-nulis ga jelas. Orang sableng….” Levina, teman baik Leona yang duduk di sampingnya saat jam pelajaran komputer karena nomor absen mereka beruntut itu menegur Leona yang sedang menulis-nulis di buku diary Winnie The Pooh nya yang baru didapatkannya saat ulang tahunnya 8 Januari kemarin.
“Nah lhooo…. Lu sendiri? Ngapain ente?” Leona mulai membalas perkataan Levina sambil mendekati meja komputer temannya itu. Levina pun sepontan menutupi monitornya dengan kedua lengannya, agar tulisan yang diketiknya tak terlihat.
“EIIIIIITTTSS!! Ga boleh liat, ini melanggar privacy! Ini ‘kan secret project!” Levina tidak membiarkan Leona untuk melihat cerita yang baru dibuatnya itu, yang Leona tau berjudul Angel War.
“HUH!! Ya udah, aku ngambek aja!” Leona mulai menggoda dan mengajak Levina bercanda.
“Eh!! Iya, iya…. Jangan ngambek lagi donk…. Kemaren ‘kan udah ngambek. Jelek banget kemaren….”
“Heh? Bodo amat! Onee-chan (bahasa Jepang : Kakak perempuan) ja-at!” Leona pura-pura memasang tampang yang ditekuk.
“Iya, iya…. Onee-chan mengaku kalah, nih onee-chan kasih naskah asli nya Navy hasil ide dan tulisan kita sekarang deh.”
“HOREEE!! Akhirnya….. Navy… Navyyyy!!” Leona loncat-loncat kegirangan, karena akhirnya akan diperbolehkan membaca salah satu cerita Levina, yaitu Navy, yang juga dibantu dengan ide-ide gila pada bagian konflik-konflik yang terjadi. Yap, Leona adalah masternya pembuatan konflik gila-gilaan yang sarap dalam sebuah cerita. Tapi kalo disuruh bikin penyelesaiannya suka mandek, walaupun nanti akhirnya ketemu. Yang paling males itu bikin ceritanya, begitulah Leona. Leona’s style….
Levina adalah seorang anak yang cinta baca, cinta nulis. Dia sering banget nulis sebuah cerita cinta maupun persahabatan, bahkan fantasi, jauh sebelum Leona. Dan dia berhasil menyebarkan virus cinta Sitta Karina (nama seorang novelis teenlit di Indonesia) dan cinta menulis. Padahal sebelumnya Leona cuma suka membaca buku-buku luar negeri. Ralat, hanya komik-komik cowok (Shounen manga), komik cewek (Shoujo manga) dan buku-buku novel Jepang terjemahan, macam Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela dan Botchan. Dan sebagai timbal balik, Leona menyebarkan virus cinta manga dan anime nya kepada Levina. Dimana sekarang Levina cinta banget sama Kaichou wa Maid-sama (My Sweet Kaichou.
“Hei!! Siapa tuh yang loncat-loncat?! Nomor berapa? Ibu kurangin, ya nilai ulangan kamu!!” Bu Vera terdengar marah dari komputer guru.
“Huuuaaaaa….” Leona langsung pura-pura tak terlihat dan duduk di kursinya lagi dan membuka sebuah file di komputernya. Nama foldernya luarnya sih games, lalu di dalam ada sebuah folder dnegan nama aneh yang tidak terdeteksi oleh siapapun, kecuali kalau sudah membuka folder tersebut. Nama folder itu PPPDG. Buat yang tau kalo Leona ikut ekskul Desain Grafis (DG) Lanjut, maka akan langsung menebak kalo folder itu adalah folder yang berisi gambar buat tugas DGL-nya. Tapi sebenernya bukan, dan yang tau kebenaran itu cuma 4 orang termasuk Leona sendiri : Renata, Levina, dan tante Leona yang lebih kecil dari dia, Levana.
“Leonaaa~~ Lagi ngapain? Dengerin lagu SUJU yuk!! Lagi demen sama ‘I am’ nih…” Renata langsung berlari menghampiri komputer nomor 15.
“UWOOOH!!” Leona langsung meng-close folder tersebut.
“…Haaaaa…. Ketauan ya…. Buka yang enggak-enggak…. Ayo, ngaku tadi buka apa Kyu?” Renata menginterogasi Leona dengan panggilan ‘Kyu’ yang diambil dari Kyuhyun, nama salah satu personil Super Junior yang paling disukai oleh Leona.
“Ooh… hyung (panggilan untuk kakak laki-laki dari adik laki-laki dalam bahasa Korea) toh. Kyu kira siapa…. Tadi abis mengagumi seseorang, Wookie-hyung…” Leona kembali membalas panggilan Renata dengan panggilan ‘Wookie’, nama kecil ‘Ryeowook’, salah seorang personil Super Junior juga, tetapi yang ini adalah personil favorit—ralat deh, fanatik-nya Renata.
“Hayooo, lagi menikmati pemandangan, ya? Ngeliatin siapa tuh? Siiiii~~?”
“Shhhhttt!!” Leona menyuruh Renata untuk diam, dan tidak menyebutkan nama ‘itu’.
“Aaahh…. Paling si ‘EHEM’.... Iya ‘kan?” Levina muncul dari belakang dan mengikuti pembicaraan antara Leona dan Renata.
“Ah, K-K-K-K-K diem aja deh!” Renata membalas perkataan Levina, seraya menyebutkan huruf pertama dari orang yang disukai oleh Levina.
“IIIKKHH!! Diem!” Levina memukul lengan Renata pelan.
“Alah, malu bilang aja….” Leona meledek Levina lagi, seraya membuat wajah aneh dengan mengangkat-angkat alisnya.
“Hehehe…. Leo mah baek, belain aku…. Hohoho…. Eh, lu abis ngeliatin si W-W-W-W-W-W, ya? Pemandangan indah buat lu..!” Renata langsung membuat dua orang keki sekaligus.
“Deuh…. ‘A’ diem aja deh….” Leona menyebutkan huruf pertama dari orang yang disukai oleh Renata, dan itu adalah nama sekelas mereka. Dan langsung berlari kabur dari Renata yang tampangnya menunjukkan kalau dia siap menelan dan mencerna Leona bulat-bulat.
“Leo!” Renata akhirnya ikut-ikut lari di lab komputer.
“…Hauh…. Orang gi~~la!” Levina cuma bisa geleng-geleng sambil melihat aksi kejar-kejaran yang dilakukan oleh Renata dan Leona sambil menunjuk mereka berdua. Dan tiba-tiba….
KREK! Pintu terbuka dan Bu Vera masuk ke ruangan, dan seketika juga langsung berteriak, “SIAPA ITU YANG TADI LARI-LARI??!!! Ibu nol-in nilai UTS nya!!” Dan sepatah kalimat manjur itu langsung membuat Leona dan Renata ngibrit ke tempat duduk masing-masing dengan tampang tak berdosa. Sementara semua anak-anak 8-2 ngikik-ngikik gara-gara kejadian bego yang baru aja lewat di depan mereka. Sang pemimpin kelas (dimana justru anak-anak cowo yang bandelnya ga ketolongan takut sama Leona) dan sang cempreng (Renata, gara-gara kalo ngomong suaranya cempreng) lari-lari kejar-kejaran di dalem ruangan. Mereka ga mau tau karena apa, bagi mereka itu cukup menghibur karena dapat melihat Bu Vera ngamuk-ngamuk di depan.
Begitulah hari-hari seorang Leona di sekolahnya, di dalam kelas yang berisi orang-orang gila. Yah, dengan Adam, sang juara satu yang hobi maen kayak orang gila, bahkan sehari sebelum ulangan. Tapi tetep aja nilainya bagus, walaupun selama sehari waktu ada ulangan dia bakalan stress seharian sebelum ulangan itu berakhir.
Dengan salah satu teman sekelas mereka juga, Alexa yang selalu dipanggil Lexa, yang jago banget maen basket. Sayang anaknya bandel dan nilainya pas-pasan. Justru malah tergolong kurang, dan yang jadi mentor dia di kelas adalah Leona dan Victoria, salah seorang teman sekelas Leona juga yang tergila-gila pada anime Fairy Tail dan Black Butler, sama seperti Leona. Jadi kadang kalo udah ketemu, Leona dan Victoria malah bakalan nyanyi-nyanyi lagunya Fairy Tail atau ngomongin Black Butler. Dan akhirnya Alexa bakal kebingungan sendiri, dan bakal marah-marah. Namun pada ujung-ujungnya malah Alexa yang akhirnya ngajak maen, dan sekarang giliran Leona yang ngamuk-ngamuk.
Dengan Maxwell bersama rambut kribo brokolinya yang kocak dan lucu yang membuat dahinya begitu bersih dan menonjol sampe dipanggil ‘jenong’.
Nadira, sang ketua kelas yang sedikit suka ngobrol dan ga suka ngatur temen-temennya. Akhirnya temen-temennya itu dibiarin ngelanggar peraturan, karena dia nya sendiri ngelanggar. Sedangkan pada akhirnya tugas atur mengatur diserahkan Leona yang menjabat sebagai sekertaris dan mantan ketua kelas.
  Sang juara dua, salah satu teman baik Levina, Deborah, yang luarnya alim-alim dengan kacamata dan wajah tenang. Ternyata dia bisa tiba-tiba masang tampang ajaib yang bisa bikin ketawa ngakak sampe jongkok, atau nyeletuk dengan joke nya yang jayus dan bikin kita malah tambah pengen ketawa sangking jayusnya.
Dan masih banyak teman-temannya yang selalu mewarnai hari-hari Leona. Tapi sebenarnya Leona ini biasa dipanggil mami, karena spesialis marah-marahin anak cowo yang pada maen pokemon waktu jam pelajaran dengan cara yang unik. Secara, karena Leona juga maen pokemon di DS nya. Dan mungkin dia adalah satu-satunya cewe yang maen pokemon di angkatan dia, jadi dia pun menegur dengan menyebutkan salah satu jurus yang disebutkan oleh teman-temannya yang sedang bermain. Leona pun sering dipanggil ‘mami’ oleh Steve dan Samuel, dua orang dari 5 orang yang sering maen pokemon di kelas waktu jam pelajaran.
Leona yang jago mandarin dan jago musik sering dicari anak-anak cowo buat diajarin sebelum ulangan atau minta clue kalo ulangan berbicara mandarin. Karena Leona selalu dapet giliran pertama dalam menghadapi ulangan berbicara Mandarin. Cowo-cowo menganggapnya helpful karena Leona selalu membantu mereka dengan tulus. Tapi Leo itu paling anti sama yang namanya ngasih jawaban ke mereka. Jadi dia bener-bener harus kerja keras demi ngajarin mereka sampe bener-bener ngerti.
“Leo, tadi lu buka apaan sih? Kasih tau donk! Bener ‘kan lu abis ngeliatin foto-foto WD yang lu ambil dari facebook?” Levina mendekati Leona yang sedang duduk sambil berpangku tangan sambil berpikir untuk mendapatkan inspirasi, biar bisa melanjutkan ceritanya yang berjudul Ketika Merah Bertemu Biru.
Spontan Levina melupakan pertanyaannya yang tadi, karena KMBB merupakan balasan dari Leona untuk Levina. Balasan untuk cerita Navy yang mendapatkan inspirasi dari Leona. Dan tokoh Algea dari novel KMBB itu pun terinspirasi oleh Levina.
Dengan heboh dan dengan mata yang membelalak, Levina terlihat mengambil mouse untuk membaca cerita yang tak kunjung selesai tersebut karena kebiasaan Leona yang tidak bisa stick  dengan sebuah pekerjaan. Leona punya banyak konsep, punya banyak ketikan, punya banyak cerita, namun yang selesai baru satu. Itu pun dengan Levina yang memaksanya untuk menyelesaikan cerita itu dengan secepat mungkin. Karena akan segera dikumpulkan dan dikirim kepada seorang editor yang merupakan teman dari guru les matematika mereka.
“UOOOOHH!! KMBB!! Mana Senna? Gue mau liat! Udah sampe mana nih?? Hohoho…. Gue penasaran,” Levina langsung menyerobot mouse tersebut dan langsung manyun saat melihat scroll mouse tersebut berhenti pada page 5.
 “Bah! Lama banget sih? Sini gue minta, gue lanjutin sesuai dengan imajinasi gue sendiri!” Levina dengan cepat langsung mencopot USB-nya dan bersiap untuk meng-copy file tersebut. Dengan tak kalah cekatan Leona mencegahnya.
“GA BOLEE~H! Enak aja. Ini punya gue! Nyohohoho!”
“Cepetan donk! Makanya gue udah ga sabar nih!”
“Lha, gue bakal kasih ini ke lu pas ultah lu nanti pas Agustus ‘kan?”
“Iya, tapi konsep cerita yang lu kasih tau ke gue aja udah panjang. Terus lu baru nyampe 5 halaman. Masih panjang ‘kan?”
“Iya sih. Ada konsep, tapi gue ga tau gimana nyampein-nya. Lagian gue lagi lack of inspiration. Dan gue lagi niat banget sama karya gue yang baru. Judulnya Melepasmu (Let You Go). Gue niat banget gara-gara cowo nya itu gue bikin sambil mikirin si ‘itu’, hehehe. Padahal kayaknya mereka ga ada mirip-miripnya. Wakakakak…”
“Nah, ‘kan? Liatin tuh, kesambet apa lagi lu? Ckckck…”
KRIIIING!! Bel tanda pelajaran telah usai menghentakkan hati seluruh siswa sekolah ini, SMPK Pelita Iman Puri. Menandakan hari Jumat ini hampir usai, ya, tinggal satu jam pelajaran lagi , yaitu jam wali kelas yang selalu ada pada jam terakhir pada hari Jumat. Semua siswa dari setiap kelas pun mulai berhamburan ke kelasnya masing-masing.
Kelas 8-2 pun mulai berhamburan ke kelas geografi yang ada di lantai satu, kelas dari guru wali kelas mereka, Bu Asri, yang mengajar geografi. Hari ini lagi-lagi Bu Asri menegur murid-murid yang bermasalah. Dari mulai bermasalah dengan nilai, dengan guru, keberisikkan mereka saat jam pelajaran, dan tentunya permainan ga jelas cowok-cowok. Dan saat waktunya pulang, semua anak dengan senang hati menerima keadaan, akhir pekan yang telah ditunggu-tunggu telah datang di tanggal 21 Januari ini.
“AKHIRNYAAAA!! Gue udah cape banget. Kyu! Pulang yuk!” Renata memanggil Leona dengan teriakkan yang mendapat balasan ketus dari Adam yang tiba-tiba lewat di depan Renata.
“BE-RI-SIK! Ok?” Adam lewat sambil memasang tampang kecutnya kearah Renata.
“DIIIIIH!! Bacot lu, Dam!” Renata membalas wajah kecut tersebut dengan wajah monyongnya yang ga kalah nyolot.
“Udah, udah. Ayo, hyung. Pulaaang….” Leona mencoba untuk melerai dan menarik Renata ke tempat parkiran untuk pulang bareng.
“Nah, Kyu. Si Levina ga ikut?”
“Kagak, hyung. Dia ga ikut, katanya hati ini mau ngeles fisika buat ulangan ntar hari Kamis.”
“Yaaaah. Tapi ya udahlah, kita hari ini bisa latian lagu No Other terus kita lanjut nonton SS (Super Show : Tour Concert Super Junior)1! Yaaaaay!”
“EHEM! Inget, hyuuuung. Hari ini mesti menyelesaikan bagiannya Dong Hae (Nama salah satu personil Super Junior) lho…”
“Duuuuuh. Itu ‘kan susah, Le. Masa disuruh nyelesaiin?”
“HARUS! Kalo ga, ga boleh nonton Wookie-oppa (Bahasa Korea : panggilan kakak laki-laki untuk perempuan)!”
“Huhuhu…. Iyaaaa~ Ampuuuuun….”
“Nah, lu bawa partiturnya ‘kan? Jadi langsung ke rumah gue nih? Soalnya mumpung hari ini guru DG gue lagi ga masuk. Fufufu….”
“Eh? ....ga bawa tuh, Le. Hohoho.”
“……..BILANG DONK! Kalo gitu sekarang kita ke rumah lu dulu!!”
“Hehehe…. Iya, ampun cici Leoooo~”
Renata dan Leona pun akhirnya pulang ke rumah mereka yang sama-sama terletak di Perumahan Permata Buana. Untuk latihan ulangan seni budaya musik, duet gitar dan piano, dengan lagu Super Junior – No Other, re-arransement by : Leona Alexandria Windara.  

-----------------------------------------
That's it... Malu sih, tapi ya udahlah.. Wahahaha~
Thx, JW

BTW kayaknya gue juga udah ga bakal post lanjutannya lagi... Karena itu rahasia pribadi ._.
Hehehe...